Sekolah Sabat, 10 Mei "Tanda Perjanjian Abraham"
10 Mei, Hari Selasa
Tanda Perjanjian
Abraham
Bacalah Kejadian 17: 1-19 dan Roma 4: 11. Apakah
signifikansi spiritual dan nubuatan dari ritual sunat?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kurangnya iman Abram, seperti yang
terlihat dalam cerita sebelumnya (Kejadian
16), memutus aliran perjalanan spiritual Abram dengan Tuhan. Selama waktu
itu Tuhan diam. Untuk pertama kalinya sekarang, Tuhan berbicara lagi kepada
Abram. Tuhan berhubungan kembali dengan Abram dan membawanya kembali ke titik
ketika Dia membuat perjanjian dengannya (Kej.
15: 18).
Namun,
sekarang Tuhan memberinya tanda perjanjian itu. Makna sunat telah lama dibahas
oleh para ahli, tetapi karena ritual sunat melibatkan penumpahan darah (lihat kel. 4: 25), itu dapat dipahami
dalam konteks pengorbanan, yag menandakan bahwa kebenaran diperhitungkan
kepadanya (bandingkan dengan Rm 4:11).
Penting juga
bahwa perjanjian ini, yang ditandai dengan sunat, dijelaskan dalam istilah yang
menunjuk kembali ke nubuatan Mesianik pertama (bandingkan Kej. 17: 7 dengan Kej. 3: 15). Kesejajaran antara kedua
ayat tersebut menunjukan bahwa janji Tuhan kepada Abram tidak hanya menyangkut
kelahiran fisik suatu bangsa; itu berisi janji spiritual keselamatan bagi semua
orang di bumi. Dan janji “Perjanjian kekal” (Kej.
17: 7) mengacu pada pekerjaan benih Mesianik, pengorbanan Kristus yang
menjamin hidup kekal bagi semua yang mengklainya melalui iman dan semua yang
menghidupkan iman itu (bandingkan dengan
Rm. 6: 23 dan Titus 1: 2).
Menariknya,
janji masa depan yang kekal ini tertuang dalam pergantian nama Abram dan Sarai.
Nama Abram dan Sarai hanya mengacu pada status mereka saat ini: Abram berarti “ayah
yang mulia” dan Sarai berarti “putri saya” (putri Abram). Perubahan nama mereka menjadi “Abraham” dan “Sara”
mengacu pada masa depan: Abraham berarti “bapak banyak bangsa” Dan Sara berarti
“putri” (untuk semua orang). Secara pararel, tetapi bukan tanpa ironi, nama
Ishak (“dia akan tertawa”) adalah pengingat tawa Abraham (tawa pertama tercatat
dalam Kitab Suci, (Kej. 17: 17); itu
adalah tawa skeptisisme atau mungkin, keheranan. Bagaimanapun juga, meskipun
dia percaya pada apa yang Tuhan telah janjikan dengan jelas kepadanya, Abraham
masih bergumul untuk menjalaninya dalam iman dan kepercayaan.
Bagaimanakah
kita bisa belajar untuk terus percaya bahkan ketika, kadang-kadang, kita
bergumul dengan kepercayaan itu, seperti yang dilakukan Abraham? Mengapakah
penting agar kita tidak menyerah meski kadang kala muncul keraguan?
Comments
Post a Comment