Sekolah Sabat, 18 Mei "Istri Ishak"

18 Mei, Hari Rabu 

Istri Ishak

                Kejadian 24 menceritakan kisah pernikahan Ishak setelah kematian Sara. Kedua cerita itu saling terkait.

                Bacalah Kejadian 24. Mengapakah Abraham begitu khawatir untuk putranya agar jangan menikahi seorang wanita dari kanaan?

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

                Sama seperti Abraham ingin mendapatkan tanah untuk menguburkan istrinya, karena janji Tuhan kepada keturunannya bahwa mereka akan memiliki tanah itu, dia sekaran bersikeras bahwa Ishak juga jangan menetap di luar Tanah Perjanjian (Kej. 24: 7). Selain itu, langkah Ishak untuk membawa pengantin perempuannya ke kemah Sara, dan catatan bahwa Ribka menghibur Ishak “setelah ibunya meninggal” (Kej. 24: 67) menunjukan kembali kepada kematian sara, menyiratkan rasa sakit Ishak karena kehilangan ibunya.

                Cerita ini penuh dengan doa dan penggenapan doa dan kaya dengan pelajaran tentang pemeliharaan Tuhan dan kebebasan manusia. Ini dimulai dengan doa Abraham. Bersumpa dengan “Tuhan, Allah yang empunya langit, dan yang empunya bumi” (Kej. 24: 3), doa ini pertama-tama adalah pengakuan akan Tuhan sebagai pencipta (Kej. 1: 1, Kej. 13: 19), yang berhubungan langsung dengan kelahiran keturunan Abraham, termasuk Mesias sendiri.

                Referensi untuk “Malaikat-Nya” dan “Tuhan Allah surga” (Kej. 24: 7) menunjukan kembali kepada Malaikat Tuhan yang dtang dari surga untuk menyelamatkan Ishak dari pembantaian (Kej. 22: 11). Tuhan yang mengendalikan alam semesta, Malaikat Tuhan yang turun tangan untuk menyelamatkan Ishak, akan memimpin dalam masalah pernikahan ini.

                Abraham membiarkan terbuka kemungkinan bahwa wanita itu tidak akan menaggapi panggilan Tuhan. Sekuat apapun Dia, Tuhan tidak memaksa manusai untuk mentaati-Nya. Mesikipun rencana Tuhan untuk Ribka adalah mengikuti Eliezer, dia tetap memiliki kebebasan memilih, Artinya, mungkin saja wanita ini tidak mau datang, dan jika tidak, dia tidak akan dipaksa.

Oleh karena itu, disini kita melihat contoh lain dari misteri besar tentang bagaimana Tuhan telah memberi kita, sebagai manusia, kebebasan untuk berkehendak, kebebasan untuk memilih, kebebasan yang tidak akan Dia injak-injak. (Jika Dia melakukannya, itu bukanlah kebebasan untuk berkehendak.) Namun bagaimanapun, terlepas dari kenyataan kehendak bebas manusia, dan banyak dari pilihan mengerikan yang dibuat manusia dengan kehendak bebas itu, kita masih dapat percaya bahwa pada akhirnya kasih dan kebaikan, pada akhirnya akan menang.

Mengapakah begitu mengihibur untuk mengetahui bahwa meskipun tidak semua hal adalah kehendak Tuhan, Dia masih memegang kendali? Bagaimanakah nubuatan seperti Daniel 2, misalnya, membuktikan hal ini kepada kita?

Comments

Popular posts from this blog

Sekolah Sabat, 16 Mei "Tuhan Menyediakan"

Sekolah Sabat, 17 Mei "Kematian Sara"

Sekolah Sabat, 15 Mei, Hari Minggu "Bukit Moria"