Sekolah Sabat, 9 Mei, Hari Senin "Keraguan Abraham"
9 Mei, Hari Senin
Keraguan
Abraham
Bacalah Kejadian 16: 1-16. Apakah makna dari keputusan
Abram untuk pergi bersama hagar, meskipun Tuhan telah berjanji kepadan nya?
Bagaimanakah kedua wanita ini mewakili dua sikap iman (Gal. 4: 21-31)?
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketika Abram
Ragu (Kej. 15: 2), Tuhan dengan tegas
meyakinkan dia bahwa dia akan memiliki seorang putra. Sekarang, 10 tahun
kemudian, Abram masih tanpa seorang putra. Bahkan setelah Nubuatan terakhir
Tuhan yang kuat, Abram tampaknya telah kehilangan imannya: dia tidak percaya
lagi bahwa dia akan mungkin memiliki seorang putra dengan Sarai. Sarai merasa
putus asa, mengambil inisiatif dan mendesaknya untuk menggunakan praktik umum
pada masa itu di Timur Dekat Kuno: mengambil pengganti. Hagar, pelayan Sarai,
ditunjuk untuk melakukan layanan ini. System bekerja, Ironisnya, strategi
manusia ini tampaknya lebih efisien dari iman pada janji Tuhan.
Bagian yang
menggambarkan hubungan Sarai dengan Abram menggemakan kisah Adam dan Hawa di
Taman Eden. Kedua peristiwa ini memiliki sejumlah motif yang sama (Sarai,
seperti Hawa, aktif; Abram seperti Adam, pasif) dan berbagi kata kerja dan
frasa yang sama (“mendengarkan suara”, “menerima” dan “memberikan”). Pararel
antara dua cerita ini menyiratkan ketidaksetujuan Tuhan atas tindakan ini.
Rasul Paulus
mengacu pada cerita ini untuk menjelaskan maksudnya tentang perbuatan versus
kasih karunia (Gal. 4: 23-26). Dalam
kedua kisah tersebut, hasilnya sama: upah langsung dari pekerjaan manusia
diluar kehendak Tuhan tetapi tidak pernah berbicara kepada-Nya; juga Tuhan
tidak berbicara kepada salah satu dari mereka. Ketidakhadiran Tuhan ini sangan
mencolok, terutama setelah kehadiran Tuhan yang intens di pasal sebelumnya.
Tuhan
kemudian menampakan diri kepada Hagar tetapi hanya setelah dia meninggalkan
rumah Abram. Penampakan yang tidak terduga ini mengungkapkan kehadiran Tuhan
meskipun manusia berusaha untuk bekerja tanpa Dia. Referensi pada “Malaikat
Tuhan” (Kej. 16: 7) adalah gelar yang
sering diidentikkan dengan TUHAN, YHWH (lihat Kej. 18: 1, 13, 22). Kali ini Tuhan yang mengambil inisiatif dan
mengumumkan kepada Hagar bahwa dia akan melahirkan seorang anak laki-laki,
Ismael, yang namanya berarti Tuhan mendengar (Kej. 16: 11). Ironisnya, cerita yang diakhiri dengan gagasan mendengar
(shama’), menggemakan pendengaran
awal cerita, ketika Abram yang “mendengarkan” (shama’) suara Sarai (Kej.
16: 2).
Mengapakah
sangat mudah bagi kita untuk membuat kesalahan yang sama seperti yan dilakukan
Abram disini?
Comments
Post a Comment